Curug Lawe, si Cantik nan Menggoda di Kaki Gunung Ungaran

Februari 03, 2014



Setelah sarapan nasi uduk di komplek Jl. Bangun harjo saya melanjutkan perjalan menuju Halte Bata Pemuda Trans Semarang . Saya kembali memastikan arah kepada Ibu penjual nasi uduk setelah menyerahkan uang Rp 5.000 rupiah dan tidak mengambil kembalian 500 peraknya untuk sarapan pagi ini. “Ya mba, tinggal lurus saja dan di depan belok kanan, haltenya sebelah kanan” Jelas seorang Bapak sembari meneguk teh hangatnya. Anggukan si ibu mantap memastikan kembali. Setelah sedikit bercakap-cakap menjawab pertanyaan dari mereka, saya pun pamit dan berterima kasih. “Hati – hati mba, tas jangan lupa” nasehat si Ibu tersenyum kepada saya . Hhhmmm itulah indahnya sebuah interaksi dalam perjalanan, sebuah ucapan dan do’a penyemangat saya dipagi ini. 

Suasana di pagi hari Jl. Bangun Harjo
Suasana di pagi hari Jl. Bangun Harjo
Masjid Kauman tertua di Kota Semarang, persis di depan penginapan
Hotel Sahara,  harga mulai 50rb/malam

Tidak perlu menunggu terlalu lama atau bahkan bermenit-menit lamanya, tidak perlu juga antrian berdesak-desakan antar sesama penumpang.  Itulah cerminan awal yang dapat saya saksikan, memang Bus Trans Semarang tidak sebesar atau se kaliber Busway gandeng di Jakarta, tapi tampak dari kebersihan dan pelayanan petugas yang ramah patutlah trasportasi umum / massal ini dapat acungan jempol dari cara kinerjanya yang terbilang masih baru. Dari segi hargapun, untuk penumpang  umum Bus ini mematok harga Rp 3.500 untuk satu kali perjalanan dan bedanya untuk pelajar dikenakan harga yang lebih murah yaitu 2.000 rupiah. “Waktunya Semarang Setara” !!! pertama kali melihatnya saya sempat tersenyum bangga dengan slogan bus tersebut. Semoga itu bukan hanya sebuah tulisan belaka, tapi kelak tulisan itu akan hidup selalu untuk kota Semarang. 

Trans Semarang dengan system bayar di atas Bus

Rute Trans Semarang, jepretan diambil di Halte Bata Pemuda

Menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit akhirnya jam 09.00 saya pun sampai di Halte terakhir sebelum Halte Sisemut Ungaran. Alun-alun ungaran pagi ini tampak bersahabat dengan cuacanya yang masih sejuk dan dingin. Tujuan saya kali ini adalah si Curug Lawe, sebuah air terjun nan elok yang bersemayam dikaki Gunung Ungaran. Keindahannya nan menawan membuat saya terpesona untuk menyaksikan secara langsung keramahannya. Seorang teman asal purwokerto telah menanti saya di Halte Alun-Alun Ungaran, kekagumannya akan Curug Lawe ini melebihi keingintahuan saya. Kenapa tidak ?? sebelumnya dia sudah menyaksikan secara langsung keindahan Curug Benowo, satu curug yang lain  yang juga berada di Lereng Gunung Ungaran . Tanpa membuang-buang waktu kami pun segera mencari ojek untuk mengantarkan kami menuju pos terakhir ke Curug Lawe. Karena akses satu-satunya dari Alun-Alun Ungaran ke Pos terakhir adalah motor, kendaraan umum atau angkot tidak tersedia untuk rute ke arah tersebut. Dengan negosiasi singkat dan padat, akhirnya 20.000 kami sepakati dengan Pak Udin untuk mengantar ke Pos terakhir sebelum jalur trekking . 

Dari Halte Alun-Alun Ungaran membutuhkan perjalan kurang lebih 20 menit untuk menuju Pos terakhir kendaraan (motor / mobil) setelah itu jalur dengan bebatuan dan tanah merah akan menemani perjalan selanjutnya menuju Curug Lawe.  Perkebunan cengkeh kiri dan kanan seolah menyambut kami dengan ucapan selamat datang . Jalanan pendakian yang berliku tajam tampaknya hal mudah bagi Pak Udin, motornya dengan gesit dan perkasa membonceng kami berdua dengan lihainya. “Disini banyak objek wisata juga mbak, tidak hanya Curug Lawe dan Curug Benowo” Terang Pak Udin dengan santainya diperjalanan. “Kampung seni, itu perkampungan yang banyak dikunjungi oleh artis-artis. Iwan fals sering ke sini” Jawabnya setelah saya menanyakan kembali objek apa saja. Ternyata Pak Udin adalah asli penduduk lokal, beliau dengan antusiasnya bercerita  sepanjang perjalanan mengenalkan kampungnya kepada kami. 
 Track permulaan setelah POS terakhir

Harus jeli melihat petunjuk arah 
Perkebunan cengkeh kiri dan kanan

Petugas pos dengan antusias menyambut kami,  tiket retribusi seharga 4.000 rupiah pun sudah di tangan. Woow, ternyata pagi ini kami berdua adalah perdana yang akan membangunkan Lawe dari tidurnya. Saya sudah tidak sabar untuk segera memulai trekking ini.
Wisata petualang pun kami mulai. Dengan langkah yang mantap dan penuh do’a langkah kaki berayun meninggalkan pos. Lima menit pertama jalur asri cengkeh masih menemani dan selanjutnya jalan setapak dengan turunan disebelah kiri sudah siap menanti. Trek selanjutnya adalah jalanan sempit dengan jalur irigasi perairan sebelah kanan dan jurang yang siap menanti di sebelah kiri, jika tidak hati-hati resiko fatal bisa terjadi. Tidak salah jika pada tiket tertulis “Waspada terhadap perubahan cuaca” karena memang jika kondisi jalanan yang basah akan sangat mempersullit langkah kaki. Rambu-rambu peringatan dan petunjuk arah kami ikuti dengan saksama, terkadang penunjuk arah tersebut bisa berada di sebuah batang pohon pun kadang di pinggir dinding jurang.




Jalur yang sangat diwaspadai, bahkan untuk berpapasan pun akan sulit
Melewati sebuah jembatan penghubung yang terbuat dari kayu, saya dan teman memutuskan istirahat sejenak melepas lelah sambil mengatur nafas kembali . Karena jalur trek selanjutnya akan lebih sulit dan menantang.  Tibalah kami pada akses terakhir jalur irigasi, pendakian melewati arus sungai pun sudah dilalui  dan sekarang tibalah kami pada trek pemisah antara Curug Lawe dan Curug Benowo. Petunjuk arah itu tertempel di sebuah batang pohon, yang menginstruksikan trackers, jika ingin ke Curug Benowo ambil jalur kiri dan jika ke Curug Lawe lanjutkan pendakian ke atas.

Jembatan untuk membantu irigasi perkebunan 
 
Pertigaan setapak, pemisah 2 Curug
Kicauan burung, semilir dedaunan dan ranting pohon membuat suasana perjalanan sedikit  mencekam mengingat kalau kami berdua adalah pendaki pertama pagi ini yang menuju Curug Lawe. Tangkapan mata mencari rambu-rambu dan petunjuk arah saya layangkan dengan cermat, takud-takud kalau salah arah, lain lagi urusannya . Apalagi kami berdua baru pertama kali menginjakkan kaki ke Curug Lawe. Mendaki bukit, melewati lembah, sungai mengalir indah kami jelajahi dengan sesekali berhenti, minum dan mengatur nafas. Sempat di perjalanan kami bertemu dengan seorang ibu – bapak pemetik kopi, untuk memastikan arah teman saya menanyakan kembali kepada mereka berdua.
Aliran Lawe yang jernih dan berwarna, sesekali diterpa cahaya matahari
Tidak terasa perjalanan 1 jam pun sudah kami tempuh, sayup terdengar panggilan si Curug Lawe menyambangi telinga. Seolah bak seorang anak kecil yang dipanggil oleh Ibunya, langkah kaki makin kami percepat, melewati sungai kembali dan tanjakan tinggi pun kami perangi. Yaaa, tidak salah lagi, karena memang ternyata dia sudah menunggu kami di depan sana . Pelitanya memanggil kami segera untuk mendekapnya . Hhmm perjuangan satu jam  yang tidak sia-sia . 11.30 Pagi itu kami berdua serasa menjadi pemilik si Cantik Lawe , berteriak, bersyukur dan bercengkrama seolah dia juga senang atas kehadiran kami.


Si Curug Lawe nan menawan 
Curug lawe, begitu ia dinamakan . Menurut info dari petugas di POS yang saya dapatkan, dinamakan Curug Lawe karena konon jumlah air terjun yang ada, baik dari yang terbesar hingga yang terkecil berjumlah 25 buah yang dalam bahasa jawa disebut Selawe. Info lainnya menyebutkan karena air terjun yang jatuh dari tebing curam itu terlihat bagai benang-benang putih, yang dalam bahasa jawa disebut Lawe. Terlepas dari sejarah penamaannya, bagi saya Curug Lawe adalah si Cantik yang menggoda di Gunung Ungaran .
Sekilas Curug Lawe mengingatkan saya dengan Air Terjun Tiu Kelep-Lombok . Air terjun utama dan didampingi oleh air terjun-air terjun kecil disampingnya. Dan untuk mencapai Tiu Kelep pun dibutuhkan trekking, walaupun berbeda 30 menit dari Lawe. Keindahan Lawe yang asri tampak membahana di pagi itu, deburan airnya yang jatuh, dingin dan alami memperdaya kami. Jepretan pun tidak ketinggalan saya abadikan.

Serasa ingin berlama-lama bersamanya
 
Tiada henti untuk mensyukurinya 
Menyusuri kawasan Curug lawe, membuat saya sedikit prihatin . Sampah ada dimana-mana !!!! Dibawah air terjun sekalipun sampal botol minuman, makanan, rokok dan sebagainya mengambang di atas air. Memang dilokasi tidak ada papan yang bertuliskan dilarang membuang sampah / sampah wajib di bawa turun kembali . Tapi setidaknya, mereka yang mengerti akan alam dengan penuh kesadaran membawa sampah turun kembali. Sembari mendengarkan nyanyian Lawe saya dan teman berinisiatif untuk mengumpulkan sampah tersebut , alhasil lebih kurang 4 plastik ukuran sedang, sampah terkumpul dan oleh-oleh yang kami bawa turun. Pihak pengelola yang sudah menulis peringatan pada tiket “Tidak membuang sampah sembarangan & menjaga kelestarian alam” adalah langkah awal yang baik demi kemakmuran alam. Tapi alangkah lebih bijaknya lagi jika dituliskan pada objek wisata “Sampah harap di bawa turun kembali !!” .
1 jam bersama Lawe sudah kami lalui, bekal minuman dan makanan kecil yang kami bawa dari bawah sudah habis . Akhirnya perut pun mulai keroncongan minta diisi. Memang pada objek wisata tidak ada yang menjual makanan atau minuman, jadi saran saya sebelum naik persiapkanlah bekal dari bawah terlebih dahulu dan datanglah lebih pagi untuk bisa puas menikmati keindahan Lawe .  Akhirnya saya dan teman memutuskan untuk segera pamit kepada si Cantik Lawe dan kembali turun untuk melapor ke Pos. Jalan yang sama pun kembali kami tapaki dengan tentegan sampah  kiri dan kanan . Harapan kecil pun terbesit di hati saya, sebuah perjalanan baru, pengalaman baru dan kawan baru membuat saya berharap, kelak semoga Curug Lawe tetap terjaga dan bebas dari sampah – sampah dan selalu bernyanyi dengan manisnya di Gunung Ungaran.

Semoga kelak, kau kan terus terjaga
// Curug Lawe, Thursday, August 15th 2013 //

You Might Also Like

0 Comments